Menantikan Tuhan dalam Kesukaran

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

1 Korintus 9:24

Masa penantian merupakan masa yang indah di mana kita hidup dalam kekekalan bersama Tuhan. Namun pada saat ini kita berada pada masa-masa yang sukar, banyak sekali tantangan yang kita hadapi. Apalagi saat ini dalam pandemi covid-19, bukan saja tantangan secara jasmani, kebutuhan pangan dan lain sebagainya yang sulit kita hadapi. Tetapi secara rohani pun kita diuji, kegiatan peribadahan dilakukan di rumah, tidak dapat mengadakan persekutuan bersama berkumpul satu dengan lainnya. Dengan itu kita perlu merenungkan, bagaimana hubungan kita dengan Tuhan selama masa pandemi ini? Apakah dengan keadaan yang sulit sekalipun kita masih mendekatkan diri dengan Tuhan, ataukah sebaliknya.

Seseorang yang berhasil melewati masa-masa sukar dan hidup sungguh-sungguh dihadapan Tuhan. Seseorang itu akan seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 9:24,”tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!.”


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Ujian Iman Menghasilkan Ketekunan

sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Yakobus 1:3

Firman Tuhan yang kita baca diatas, tentu tidak muncul secara tiba-tiba, Yakobus menuliskan surat ini bagi suku Israel yang saat itu terpencar oleh karena adanya penganiayaan yang mereka alami. Oleh karenanya Yakobus mencoba menguatkan iman mereka agar teguh memelihara iman walaupun banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapi, Yakobus juga megingatkan bahwa ujian-ujian yang mereka hadapi akan menghasilkan ketekunan.

Berbicara tentang ujian, ada berbagai ujian yang seringkali kita alami bukan? Kesabaran, finansial, sakit penyakit atau berbagai ujian lainnya, tentu setiap kita mengalami ujian yang berbeda-beda. Namun tujuan dari sebuah ujian yang diberikan kepada orang percaya adalah sama, yaitu menghasilkan suatu ketekunan / iman yang murni sehingga kita dapat menjadi pemenang. Menang terhadap amarah, pengampunan, pengendalian diri, kelemahlembutan dan hal-hal lainnya.

Apa ujian yang sedang kita hadapi hari-hari ini? Mari hadapi dengan berlandaskan firman Tuhan, raih ketekunan dan kemenangan. Jangan takut dan gentar terhadap segala macam ujian, cukup libatkan Allah dan berjalanlah dengan iman,Imannuel (Allah beserta Kita). (NV)


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Penyertaan Tuhan di Tengah Ujian

Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.

Ulangan 8:6

Perjalanan bangsa Israel melintasi padang gurun merupakan akibat dari ketidaktaatan persungutan mereka kepada Tuhan. Apabila kita memperhatikan kisah perjalanan mereka, kita melihat bahwa sekalipun berada dalam pengembaraan di padang gurun, pemeliharaan Tuhan tetap nyata atas kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Apa yang dialami oleh umat Tuhan pada masa Perjanjian Lama menjadi pelajaran bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya meski berada dalam di tengah ujian. Pengalaman bangsa Israel ini menjadi pelajaran penting dan menjadi sebuah pengharapan bagi kita, bahwa kita sebagai umat Tuhan perlu untuk hidup taat kepada Tuhan dan tidak bersungut-sungut ketika menghadapi masa-masa yang sulit. Bahkan sekalipun berada di tengah ujian yang diijinkan Tuhan untuk kita alami, namun penyertaan Tuhan tetap nyata dalam kehidupan kita.

Saat ini ketika seluruh dunia sedang menghadapi pandemic covid-19 sebagai ujian bagi umat manusia, biarlah kita tetap menaruh harapan dan keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertai dan memelihara kehidupan kita seperti yang dialami oleh umat-Nya di PL. (YS)


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Tetap Percaya Meski Dalam Pencobaan

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya

1 Korintus 10:13

Ketika kita mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, maka tidak menjadi jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja. Justru ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, maka dalam sepanjang kehidupan kita akan semakin banyak pencobaan dari si jahat yang terus berusaha menjauhkan kita dari Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi hari ini kita belajar untuk tidak menjadi tawar hati dikala pencobaan itu datang menerpa kehidupan kita. Firman Tuhan dari 1 Korintus 10:13 mengatakan ; “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa pencobaan yang diizinkan Tuhan ada di dalam kehidupan kita tidak akan melampaui kemampuan kita dan Tuhan akan menolong kita dengan memberikan jalan keluar dari setiap pencobaan. Oleh sebab itu, ketika kita ada di dalam pencobaan, tetaplah percaya dan nantikanlah pertolongan yang datangnya hanya dari Tuhan kita, Yesus Kristus. (FK)


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Diuji untuk Menjadi Sempurna

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Yakobus 1:2-4

Seorang sarjana dinyatakan lulus dan berhasil meraih gelar sarjana setelah melewati sebuah ujian (sidang skripsi). Dalam pembuatatan skripsi terkadang mereka menghadapi banyak kesulitan, bahkan puncaknya ketika mereka menghadapi ujian sidang skripsi, saat itulah kemampuan mereka betul-betul diuji. Mereka ditanya dengan berbagai pertanyaan dari Dosen Penguji untuk mengetahui seberapa besar kemampuan mereka. Jika mereka lulus, mereka akan segera diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Jika tidak lulus, mereka akan diberi kesempatan untuk memperbaikinya dan mengulang ujian (Remedial) kembali.

Begitulah kehidupan kita layaknya seorang murid sekolahan. Kita pun akan menghadapi berbagai ujian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita untuk membuat kita “naik kelas” dihadapan Tuhan. Kenaikan kelas kita dihadapan Tuhan bukan membawa kita lebih mampu secara pengetahuan kekristenan ataupun dalam pelayanan, tapi kenaikan kelas kita diharapan Tuhan akan terlihat dari karakter (buah-buah rohani) yang terlihat dalam kehidupan kita. Yakobus 1:2-4 mengatakan bahwa melalui pencobaan / akan menghasilkan ketekunan dan dari ketekunan tersebut akan menghasilkan buah yang matang (sempurna). (DT)


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Allah Menguji Kesabaran untuk Memperbesar Iman

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”

Ayub 23:10

Ayat ini tertulis ketika Ayub ketika menjawab setiap hal yang dikatakan oleh sahabatnya yang menuduh bahwa Ayub telah berdosa kepada Allah dan menganjurkan segera bertobat. Sebab, sahabatnya melihat malapetaka yang dialaminya sungguh berat, semua harta benda habis lenyap beserta dengan anak-anaknya, bahkan istrinyapun menyuruh untuk mengutuki Allah. Namun Ayub tidaklah sepemikiran dengan sahabatnya, ia yakin dan berkata bahwa Tuhan tahu jalan hidupnya. Ia yakin setiap hal yang diizinkan oleh Tuhan adalah membuat ia semakin dewasa dalam pengenalannya akan Allah.

Pada akhir kisah Ayub, terbukti bahwa sahabat-sahabatnya yang bersalah di hadapan Allah dan tidak mengatakan yang benar tentang Allah (Ayub 42: 7-8). Melalui Ayublah, mereka memperoleh pengampunan, karena hanya permintaan Ayub yang akan Tuhan kabulkan (Ayub 42:9). Bukan hanya itu, keadaan Ayubpun dipulihkan dan memberikan kembali dua kali lipat dari kepunyaannya dahulu (Ayub 42:10).

Bagaimana dengan kita saat ini? Maukah kita tetap menjadi orang yang sabar memiliki iman kepada Tuhan? Akankah kita tetap bertahan sampai akhir dan menerima janji Tuhan? Mari kita tetap bersabar dengan hal yang kita alami saat ini, sebab Tuhan mengizinkan untuk supaya kita mempunyai kapasitas iman yang besar, membuat kita mengenal Allah yang hidup dan kita menerima janji-Nya. (NV)


Photo by Shelby Miller on Unsplash

Menikmati Hadirat-Nya

Mazmur 27:4

Dalam ayat ini Daud menyatakan bahwa ia memiliki kerinduan untuk diam di rumah Tuhan. Diam di rumah Tuhan tidak bisa secara literal dijelaskan diam di dalam gereja setiap hari, namun ayat ini dapat diartikan pula kerinduan Daud adalah selalu dekat dengan Tuhan, rumah berbicara tentang tempat kediaman, artinya Daud ingin selalu dekat dengan tempat kediaman Tuhan atau hadirat Tuhan. “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11).

Mengapa Daud sungguh menginginkan untuk senantiasa berada dekat dengan Tuhan? Tentu, di dalam dekat dengan Tuhan kita beroleh kedamaian, ketenangan, damai sejahatera, sukacita dan segalanya yang baik meskipun secara nyata kita dalam kondisi yang kurang baik sekalipun. Itulah yang dialami Daud, ketenangan saat didekat Tuhan walaupun keadaan bertolak belakang. Menikmati kehadiran-Nya dalam hidup kita bukan hanya bicara tentang berkat, namun bagaimana kita sebagai orang percaya dapat menikmati pertolongan dan kekuatan serta firman-Nya yang menegur dalam segala kondisi, menikmati kehadiran-Nya juga sebagai pengendali atas hidup kita. Tuhan memberkati. (NV)


Photo by Carolyn V on Unsplash

Hati yang Menyembah

Yesaya 29:13

Apakah Bapak, Ibu, Saudara tahu istilah prank? Mungkin terasa asing, namun bagi yang mengerti dan suka melihat tayangan prank pasti akan memahami apa maksud dari sebuah prank. Prank adalah lelucon yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud membuat targetnya merasa kaget, heran, atau tidak nyaman. Pertanyaannya, bagaimana perasaan anda jika ada seseorang tiba-tiba bergurau dengan anda padahal anda tidak dalam situasi yang ingin bercanda? Ambil saja contoh seseorang datang kepada anda dengan membawa hadiah yang besar sebagai ucapan selamat atas keberhasilan anda. Setelah anda buka yang anda dapatkan hanyalah secarik kertas dengan ucapan “Selamat”. Tentu ada perasaan kurang nyaman. Demikian juga yang terjadi saat kita datang menghadap hadirat Tuhan, seakan-akan memuji Tuhan, mengucap syukur, atau menyembah Tuhan, namun hati kita tidak demikian. Kita datang sebagai kebiasaan, rutinitas, tanpa tahu jika Allah merindukan isi yang ada didalam hati kita, bukan bungkus luarnya. Penyembahan bukan tentang yang menarik diluar atau yang terlihat mata jasmani, penyembahan sejatinya berbicara akan sesuatu yang tersembunyi yang hanya engkau dan Allah yang tahu. Hati yang menyembah merupakan sebuah pengakuan, jika kita datang kepada Allah dalam momen rindu, mengucap syukur, serta berserah, yang kita ungkapkan dalam sikap hormat serta memuja Dia.(EP)

Photo by Carolyn V on Unsplash

Mendengar Suara Tuhan

Bilangan 12:7-8

Kadangkala kita tidak tahu bagaimana caranya dapat berkomunikasi dengan Allah. Melalui kisah Musa yang berkomunikasi dengan Allah seperti terhadap sahabatnya sendiri (Bil. 12:7-8), kiranya menjadi contoh bagi kita bahwa kitapun dapat membangun komunikasi dengan Allah.Dari kisah Musa di atas, ternyata untuk berkomunikasi dengan Tuhan merupakan hal yang sederhana. Kita dapat menceritakan isi hati kita sama seperti kepada teman kita (ay. 11) lewat doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Allah ingin agar kita mendekat kepada-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi. Dia ingin kita menyadari bahwa Tuhan bukanlah Allah yang jauh dan sulit untuk berkomunikasi dengan umat-Nya.

Allah senantiasa ingin membangun komunikasi dengan manusia. Itu sebabnya Dia menyatakan diri-Nya dengan berbagai cara. Kita mengenal ada pernyataan umum melalui ciptaan-Nya dan suara hati manusia dan pernyataan khusus, yakni melalui Tuhan Yesus Kristus dan melalui Alkitab yang adalah Firman Allah.Dengan demikian kita tahu sekarang bahwa ada dua cara komunikasi dengan Allah. Pertama, kita dapat mencurahkan isi hati kita lewat doa yang kita panjatkan dan kedua, kita dapat mengerti isi hati Allah melalui Alkitab/Firman. (YS)


Photo by Carolyn V on Unsplash

Bagaimana Intim Dengan Tuhan?

Silakan klik di sini untuk mendengarkan audio melalui podcast :)

Yakobus 4:8a

Jika kita ingin kenal dengan intim dengan seseorang, tentunya kita akan terus mencoba membangun hubungan dengan orang tersebut. Kita akan mulai sering mengkontak / berbicara dengan dia, lalu kita pun akan mencoba mengajak ketemuan, bukan cuma sekali tapi berkali kali. Dan setelah sekian lama kita lakukan terus menerus tentulah kita akan menjadi akrab (intim) dengan orang tersebut.

Begitu juga seharusnya kita lakukan, ketika kita ingin dekat (intim) dengan Tuhan. Ketika kita sering berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa-doa kita, dan mempersilahkan Tuhan berbicara lewat firman Tuhan yang kita baca setiap hari. Maka jika hal itu dilakukan setiap hari, tentulah kita akan menjadi dekat (intim) dengan Tuhan. Kita akan mulai banyak mengenal Tuhan lewat firman Tuhan yang kita baca setiap hari, dan dengan pengenalan tersebut komunikasi kita dengan Tuhan lewat doa-doa kita tidak lagi kaku, kita bisa berdoa layaknya kita berbicara pada seseorang yang sudah dekat dengan kita. Jika kita hanya mengandalkan bertemu Tuhan seminggu sekali di gereja, itu pun dalam ibadah raya, bagaimana kita bisa dekat (intim) dengan Tuhan karena saat itu Tuhan memang hadir untuk setiap jemaat, tapi “privacy” Saudara dengan Tuhan akan lebih terbangun dalam hubungan pribadi-mu dengan Tuhan, bukan lewat ibadah raya. (DT)


Photo by Carolyn V on Unsplash