Otoritas di Dunia

Ayat Alkitab: Ibrani 13:17a

Otoritas tertinggi dalam kehidupan orang percaya adalah Tuhan Yesus yang berkuasa atas hidup kita. Namun Allah juga memberikan wewenang untuk orang-orang yang dipilihnya menjadi para pemimpin di dunia. Dari mulai pemimpin di komunitas yang kecil hingga besar. Contoh didalam keluarga yang menjadi pemimpin adalah Ayah, di dalam gereja adalah Gembala, dan dalam suatu negara adalah Presiden. Allah memberikan otoritas-Nya kepada orang-orang yang dipilihnya untuk menjadi saluran tangan kepemimpinanya didunia namun tetap dalam pengendaliannya.

Tugas kita sebagai orang percaya adalah yang pertama, menyadari bahwa orang-orang yang menjadi pemimpin dalam hidup kita didunia merupakan campur tangan Tuhan memberikan otoritas kepada mereka, sehingga dengan begitu kita dapat memiliki sikap yang tunduk dan menghargai pemimpin. Kedua, kita harus menyadari bahwa mereka yang diberikan otoritas untuk memimpin adalah orang-orang yang memikirkan hal-hal yang terbaik bagi setiap kita yang dipimpin, ditegaskan dalam ayat ini “mereka berjaga-jaga atas jiwamu”. Yang ketiga satu-satunya alasan yang tepat kita menundukkan diri dan menghormati pemimpin bukan karna motivasi lain namun karena ketaatan akan kehendak Tuhan. (NV)

Photo by Brett Zeck on Unsplash

Hormati Para Pemimpinmu..

Ayat Alkitab: 1 Tesalonika 5:12-13

Salah satu nasihat dari rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika yang perlu diperhatikan adalah menghormati pemimpin rohani (1 Tes. 5:12-13). Para pemimpin dalam pekerjaan Tuhan adalah gembala, majelis, pengurus atau pemimpin rohani kita. Perintah ini tentu sangat relevan pada zaman sekarang, Mengapa hal ini perlu ditegaskan pada zaman sekarang ini?  Karena pada zaman ini manusia memiliki pemikiran yang semakin luas dan bebas, sumber pemikiran dapat diakses dari manapun sehingga pengaruh-pengaruh itu dapat bebas masuk dalam pikiran kita, termasuk pemikiran tidak perlunya terlalu respect terhadap pemimpin rohani, padahal pemimpin rohani adalah orang-orang yang telah Tuhan tetapkan untuk menjadi pemimpin kita dalam hal kerohanian, mereka telah bekerja keras untuk memimpin banyak kepala yang berbeda, membimbing anak-anak sampai orang dewasa, memikirkan teguran yang tepat dan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan yang sesuai sehingga jemaat mengalami pertumbuhan iman.

Bahkan dikatakan seorang pemimpin rohani adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan berjaga-jaga atas jiwa kita .”Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.”  (Ibrani 13:17a),  mereka adalah orang-orang yang mengcover kita, layaknya Tuhan Yesus sebagai gembala dan kita sebagai domba, demikianlah pemimpin rohani kepada orang-orang yang Tuhan percayakan untuk dipimpinnya. Namun ingat, para pemimpin rohani harus dihormati dan dicintai bukan dengan rasa takut atau karena jabatannya, namun karena mereka sudah memberi waktunya untuk melayani Tuhan dan jemaat, bukan hanya waktu namun mungkin ada hal-hal yang harus mereka korbankan yang tidak kita tahu seperti contoh waktu dengan keluarga, tenaga, materi dll. Ada hal-hal yang perlu kita tanamkan dalam hati kita supaya kita tetap dapat mengormati dan mengasihi pemimpin kita:

1. Berhenti menuntut, berilah support.

Tanpa kita sadari, seringkali kita memberi tuntutan-tuntutan kepada pemimpin rohani kita namun lupa untuk memberi support. Kita memberikan mereka suatu standart untuk dapat melakukan segala hal, dapat mengerti pemikiran banyak orang, dapat meluangkan waktu setiap hari, namun berapa banyak support yang kita berikan untuk mereka? Apakah seimbang? Sebab kalau kita terus menuntut tanpa support maka tidak akan muncul suatu kepuasan yang ada malah pemberontakan dan kekecewaan kepada pemimpin rohani kita.

2. Menyadari pemimpin rohani juga manusia yang memiliki kelemahan.

Terkadang karena ekspektasi kita yang begitu besar kepada pemimpin rohani, maka seringkali kita merasa kecewa jika pemimpin rohani kita melakukan hal-hal yang tidak sepemikiran dengan kita. Kita harus menyadari bahwa pemimpin rohani adalah manusia yang sama seperti kita, ia diberi Tuhan mandat untuk memimpin namun ia tetap tak luput dari kelemahan dan kesalahan. Oleh karena itu, hormati dan kasihilah pemimpin kita dengan kasih Tuhan yang tulus dan murni.

3. Mulailah berdoa untuk pemimpin.

Dalam perjalanan seorang pemimpin ia akan banyak mengambil keputusan, menyampaikan kebenaran, membimbing jemaat, mendoakan jemaat, dan banyak lagi. Pemimpin juga perlu dukungan doa agar ia tetap ada dalam koridor jalan Tuhan untuk memimpin umat-Nya. Bukan hanya pemimpin yang harus berdoa untuk jemaat, namun kita juga harus berdoa untuk setiap pemimpin kita agar keputusan yang diambil berdasarkan hikmat dari Tuhan. Mari mulai hari ini kita sisipkan doa untuk pemimpin rohani kita.

Perlu diingat, pemberontakan terhadap pemimpin bukan hanya akan melemahkan gereja serta pekerjaan Tuhan, namun hal itu akan membuka kesempatan bagi iblis untuk memecah belah, memadamkan roh dan menghalangi gereja Tuhan untuk berjalan masuk dalam rencana-Nya. Maka, mari dukung, hormati dan kasihi para pemimpin rohani kita seperti yang Firman Tuhan ajarkan kepada kita hari ini.

Photo by Mathias Jensen on Unsplash

Ibadah Minggu 22 Maret 2020

Dalam rangka mendukung gerakan “Social Distance” dari pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi jumlah penyebaran virus Corona, maka GIA Kopo Permai menyelenggarakan Ibadah Minggu pada tanggal 22 Maret 2020 secara daring, agar jemaat tetap dapat beribadah pada hari Minggu tanpa harus berkumpul di gereja.

Bagi anda yang memiliki kuota terbatas atau kesulitan menjalankan file video tersebut, anda dapat mengakses file audionya dengan mengklik link berikut ini:
https://bit.ly/2U6ZP9i

Semoga video ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Sehat selalu dan kiranya tetap bersukacita. Tuhan memberkati kita semua.

Firman Tuhan: Pdt. Yusak Franky S. (Gembala Sidang) https://www.instagram.com/yusak_fs/

Instagram GIA Kopo Permai: https://www.instagram.com/gia_kopoper…

Musik Latar Belakang (BGM): Tenderness (https://www.bensound.com)

Membangun Komunitas

Baca: Efesus 2:19–3:11

Henri Nouwen berkata, “‘Komunitas’ adalah tempat di mana orang yang paling tidak kita inginkan kehadirannya selalu tinggal bersama kita.” Kita sering menempatkan diri di tengah orang-orang yang paling kita inginkan kehadirannya bersama kita. Bersama mereka, kita membuat perkumpulan eksklusif, dan itu bukan komunitas. Setiap orang bisa membuat perkumpulan, tetapi dibutuhkan kasih karunia, visi yang sama, dan kerja keras untuk membentuk komunitas.

Gereja Kristen adalah institusi pertama dalam sejarah yang menyatukan secara setara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, pria dan wanita, budak dan orang merdeka. Rasul Paulus menyebut itu sebagai “rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah”. Paulus mengatakan bahwa dengan membentuk komunitas yang terdiri dari anggota-anggota yang beragam, kita memiliki kesempatan untuk memikat perhatian dunia ini dan juga dunia supernatural (Ef. 3:9-10).

Sayangnya, dalam banyak hal, gereja telah gagal melakukan tugas itu. Walaupun demikian, gereja merupakan satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi yang mempersatukan berbagai generasi: bayi yang masih digendong ibunya, anak-anak yang berceloteh dan tertawa sesuka hati, orang dewasa yang bertanggung jawab dan yang tahu bagaimana bersikap sepatutnya di setiap saat, dan mereka yang mungkin tertidur ketika pengkhotbah berbicara panjang lebar.

Jika kita menginginkan pengalaman komunitas yang Allah tawarkan kepada kita, kita bisa menemukannya dalam jemaat yang terdiri dari orang-orang yang “tidak seperti kita”.

sumber: www.santapanrohani.org

Inilah Aku

Baca: Yakobus 3: 7-12

Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. —Yakobus 3:10

“This Is Me” (Inilah Aku) adalah lagu hit dari The Greatest Showman, sebuah film musikal sukses yang mengangkat kisah P. T. Barnum dan rombongan sirkus kelilingnya. Dalam film, lagu itu dinyanyikan oleh para tokoh yang pernah dihina dan dilecehkan secara verbal karena dianggap tidak sejalan dengan norma sosial dalam masyarakat. Liriknya menyebutkan bahwa perkataan seseorang bagaikan peluru yang mematikan dan pisau yang melukai. Popularitas lagu itu menunjukkan banyaknya orang yang menderita luka batin akibat kata-kata yang tajam.

Yakobus memahami potensi dari kata-kata kita untuk menimbulkan kerusakan dan luka batin jangka panjang. Ia menyebut lidah sebagai “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:8). Dengan analogi yang tegas, Yakobus menekankan pentingnya orang percaya menyadari kekuatan luar biasa dari ucapan mereka. Ia bahkan menyoroti adanya kontradiksi ketika kita menggunakan lidah kita untuk memuji Allah, tetapi menggunakannya juga untuk mengutuk sesama kita yang diciptakan menurut rupa Allah (ay.9-10).

Lagu “This Is Me” juga menantang ucapan-ucapan yang melukai itu dengan menegaskan bahwa sesungguhnya kita semua adalah ciptaan yang mulia—suatu kebenaran yang juga diakui Alkitab. Alkitab menetapkan bahwa martabat dan keindahan yang unik dari setiap manusia bukan disebabkan oleh penampilan lahiriah atau perbuatan kita, melainkan karena setiap dari kita telah diciptakan dengan indah oleh Allah—sebagai mahakarya-Nya yang unik (Mzm. 139:14). Kata-kata yang kita lontarkan kepada dan tentang satu sama lain berdampak besar untuk menegaskan kebenaran yang menguatkan itu.

sumber: www.santapanrohani.org

Isi Saku Lincoln

Baca: Roma 15:1-6

Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. —Roma 15:2

Pada saat presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, ditembak di Ford Theatre di tahun 1865, dalam saku bajunya ditemukan benda-benda berikut: dua pasang kacamata, selembar pembersih lensa, sebilah pisau lipat, sebuah jam saku, sehelai saputangan, sebuah dompet kulit berisi lembaran uang senilai 5 dolar, dan delapan lembar guntingan koran, beberapa di antaranya berisi pujian terhadap dirinya dan kebijakan-kebijakan yang diambilnya.

Saya heran mengapa seorang presiden mengantongi uang di saku bajunya, tetapi saya bisa memahami mengapa Lincoln membawa-bawa guntingan koran yang berisi pujian terhadap dirinya. Setiap orang butuh dorongan, termasuk pemimpin besar seperti Lincoln!

Siapakah yang saat ini membutuhkan dorongan semangat? Setiap orang! Cobalah lihat sekeliling Anda. Tidak seorang pun dari mereka memiliki kepercayaan diri sebesar yang Anda kira. Terkadang hanya butuh satu kegagalan, komentar sinis, atau pengalaman buruk untuk membuat kita goyah dan meragukan diri sendiri.

Apa yang terjadi seandainya kita semua menaati perintah Allah untuk “mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya”? (Rm. 15:2) Bagaimana jika kita bertekad untuk hanya mengucapkan “perkataan yang menyenangkan”, yang “manis bagi hati dan obat bagi tulang tulang”? (Ams. 16:24). Apa yang akan terjadi jika kita menuliskan perkataan seperti itu, agar teman-teman kita dapat membacanya dan menikmatinya terus-menerus? Mungkin kita perlu menyimpan catatan itu di dalam saku (atau ponsel) kita! Kita pun akan dimampukan menjadi seperti Yesus, yang “tidak mencari kesenangan-Nya sendiri” tetapi hidup untuk orang lain (Rm. 15:3).

sumber: www.santapanrohani.org

Kusorakkan Haleluya

[intro]
Ooooo.. Ooo.. Ooooo..

[verse]
Yesus Kau kekuatan di hidupku
Tak kan gentar langkahku
Kau angkat tanganku disaat ku jatuh
Kaulah sumber kuatku

[pre-chorus]
Lembah yang kelam kan ku lewati
Sebab Engkau sertaku
Dengan imanku ku dis’lamatkan
Oleh kuasa Yesusku

[chorus]
Kuangkat tanganku
Kusorakan haleluya
Namamu berkuasa
Surga bumi nyatakan

Kuangkat tanganku
Nyatakan kau hebat
Allah yang perkasa
Berkuasa s’lamanya

Kritikan yang Baik

Baca: Yohanes 4:7-15,28-29

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. —Yohanes 1:17
Suatu hari dalam pelajaran melukis pemandangan, guru saya, seorang seniman profesional yang sangat berpengalaman, datang untuk menilai karya pertama saya. Ia berdiri di depan lukisan saya sambil memegang dagunya. Oh tidak, pikir saya. Ia pasti bilang lukisan saya jelek.

Ternyata tidak.

Menurutnya, ia suka susunan warna dan kesan terbuka dalam lukisan saya. Kemudian ia berkata bahwa pohon-pohon yang saya lukis di kejauhan bisa dibuat sedikit lebih terang. Rumpun ilalang bisa diperhalus sapuannya. Ia memiliki otoritas untuk mengkritik karya saya berdasarkan aturan perspektif dan warna, tetapi kritikannya jujur dan disampaikan dengan baik.

Yesus, yang sangat berhak menghukum manusia karena dosa mereka, tidak menggunakan Sepuluh Perintah Allah untuk menegur wanita Samaria yang Dia temui di tepi sumur. Yesus dengan lembut mengkritik hidup wanita itu hanya dengan beberapa pernyataan. Hasilnya, wanita itu sadar bahwa pencariannya terhadap kepuasan telah membawanya kepada dosa. Dari kesadaran itu, Yesus menyingkapkan diri-Nya sebagai satu-satunya sumber kepuasan abadi (Yoh. 4:10-13).

Kombinasi anugerah dan kebenaran yang Yesus pakai dalam situasi itu sama seperti yang kita alami dalam hubungan kita dengan Dia (1:17). Anugerah-Nya membuat kita terlepas dari dosa, dan kebenaran-Nya membuat kita sadar bahwa dosa adalah masalah yang serius.

Maukah kita mengundang Yesus untuk menunjukkan area mana saja dalam hidup kita yang perlu bertumbuh agar kita bisa lebih menyerupai Dia?

sumber: www.santapanrohani.org