[verse] Bersyukurlah kepada-Nya bawalah pujian bagi-Nya Kar’na Dia Raja, Dia yang perkasa Tuhanlah kekuatanku, mazmur dan kes’lamatanku Dia penolongku yang b’ri hidupku
[pre-chorus]
Kau yang berjaya
s’luruh semesta sujud menyembah
[chorus] Agunglah kebangkitan-Mu mujizat telah terjadi junjung kasih anug’rah-Mu kekal teguh dan mulia
[verse] FirmanMu kebenaranMu itulah kekuatanku Iman dan keadilan menjadi perlindunganku Ku tahu lawanku tak berkuasa atasku Di dalam namaMu kupegang genggam tanganku
[chorus]
S’bab itu ambillah senjata Allah
Di dalam kuasa namaNya
Dan ‘kan ku injak-injak iblis di kakiku
Di dalam kuasa namaNya
[ending]
Yesus. Yesus. namaNya berkuasa
Yesus. Yesus. ada kuasa dalam namaNya
Kabar itu begitu suram. Belakangan, ayah saya mengalami sakit di bagian dadanya. Pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pada tiga titik di pembuluh darah arterinya. Ayah saya dijadwalkan menjalani operasi triple-bypass pada tanggal 14 Februari. Meskipun cemas, Ayah merasa tanggal tersebut membawa pengharapan baginya: “Saya akan dapat jantung baru sebagai hadiah Valentine!” Operasi berjalan lancar, sehingga pembuluh darah kembali mengalirkan kehidupan kepada jantung yang selama ini bekerja susah payah—jantungnya yang “baru”.
Operasi itu mengingatkan saya bahwa Tuhan juga menawarkan hidup baru kepada kita. Karena dosa telah menyumbat “arteri” rohani kita—kapasitas untuk berhubungan dengan Allah—kita memerlukan “operasi” rohani untuk membersihkan sumbatan itu.
Itulah janji Allah kepada umat-Nya di Yehezkiel 36. Dia meyakinkan mereka, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru. . . . Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (ay.26). Dia juga berjanji, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu” (ay.25) dan “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu” (ay.27). Bagi yang putus asa, Allah menjanjikan awal yang baru karena hanya Dia yang dapat memperbarui kita.
Janji itu pun digenapi melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Ketika percaya kepada-Nya, kita menerima hati baru yang telah bersih dari dosa dan keputusasaan. Hati kita yang baru dipenuhi Roh Kristus untuk mengalirkan darah kehidupan spiritual yang diberikan Allah, supaya kita juga “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4).
Saya tumbuh besar di kawasan selatan Amerika Serikat yang bersuhu hangat, sehingga ketika saya pindah ke wilayah utara, dibutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi. Saya perlu membiasakan diri mengemudi dengan aman semasa musim dingin yang panjang dan bersalju. Pengalaman musim dingin pertama saya sangatlah berat, sampai tiga kali mobil saya terjebak dalam gundukan salju! Namun setelah bertahun-tahun latihan, saya akhirnya terbiasa dan merasa nyaman berkendara di jalanan musim dingin yang licin. Adakalanya saya justru terlalu nyaman sehingga tidak lagi waspada. Pada saat itulah, mobil saya tergelincir di jalanan beraspal yang berlapis es tipis hingga menabrak tiang telepon di pinggir jalan!
Syukurlah, tidak ada yang terluka dalam peristiwa itu, tetapi saya mempelajari satu hal penting pada hari itu. Betapa berbahayanya bila kita merasa terlalu nyaman. Alih-alih waspada, saya justru lengah dan membiarkan mobil lepas kendali.
Kita perlu menerapkan kewaspadaan yang sama dalam kehidupan rohani kita. Rasul Petrus memperingatkan orang-orang percaya untuk tidak menjalani hidup ini dengan lengah, melainkan dengan tetap berjaga-jaga (1Ptr. 5:8). Iblis bekerja aktif untuk menghancurkan kita, sehingga kita juga perlu aktif melawan godaan dan berdiri teguh dalam iman kita (ay.9). Kita tidak perlu melakukannya seorang diri karena Allah berjanji akan menyertai kita dalam penderitaan, dan pada akhirnya “meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan” kita (ay.10). Dengan kuasa Allah, kita belajar untuk tetap waspada dan berjaga-jaga dalam melawan godaan dan setia mengikut Dia.
Kami sekeluarga pernah berada di kota Roma untuk liburan Natal. Belum pernah saya melihat suasana seramai itu. Saat kami berdesak-desakan menembus kerumunan orang untuk melihat-lihat tempat wisata seperti Vatikan dan Koloseum, berulang kali saya menekankan kepada anak-anak saya untuk memiliki “kesadaran pada situasi”—yaitu memperhatikan di mana mereka berada, siapa yang ada di sekitar mereka, dan apa yang sedang terjadi. Kita hidup di tengah dunia yang tidak lagi aman, baik di dalam maupun di luar negeri. Ketika anak-anak (dan juga orang dewasa) selalu sibuk dengan telepon genggam dan alat dengar, mereka tidak selalu menyadari situasi di sekeliling mereka.
Kesadaran pada situasi juga menjadi aspek doa Paulus untuk jemaat di Filipi, seperti yang tertulis dalam Filipi 1:9-11. Ia berdoa agar mereka semakin memiliki kearifan untuk mengenali siapa/apa/di mana situasi mereka. Namun, bukan demi keamanan diri Paulus berdoa demikian. Ia berdoa dengan maksud yang lebih besar, yaitu agar orang-orang pilihan Allah menjadi pengelola yang baik dari kasih Kristus yang telah mereka terima, sehingga mereka “memilih apa yang baik”, hidup “suci dan tak bercacat”, dan dipenuhi “dengan buah kebenaran” yang hanya dapat dihasilkan oleh Yesus Kristus.
Hidup semacam itu bersumber dari kesadaran tentang siapa Allah dalam hidup kita dan apa yang menyukakan hati-Nya (yaitu sikap kita yang semakin mengandalkan Dia sebagai Tuhan kita). Lebih dari itu, kita pun menyadari di mana kita dapat membagikan kelimpahan kasih-Nya, yaitu dalam situasi apa pun yang Tuhan izinkan kita alami.
Jemaat kecil kami memutuskan memberi kejutan pada anak lelaki saya pada ulang tahunnya yang keenam. Mereka menghiasi ruang kelas Sekolah Minggu dengan balon-balon dan menyiapkan satu meja kecil dengan kue diatasnya. Ketika anak saya membuka pintu, semua orang pun berteriak: “Selamat ulang tahun!”
Belakangan, saat saya memotong kue, anak saya datang menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Ibu, mengapa semua orang di sini sayang padaku?” Saya juga memiliki pertanyaan yang sama! Kami baru enam bulan mengenal mereka tetapi mereka memperlakukan kami seolah-olah kawan lama.
Kasih mereka kepada anak saya mencerminkan kasih Allah kepada kita. Kita tidak bisa memahami mengapa Dia mengasihi kita, tetapi itulah yang Dia lakukan—dan kasih-Nya diberikan secara cuma-cuma. Kita tidak melakukan apa pun yang membuat kita layak menerima kasih-Nya, tetapi Dia melimpahi kita dengan kasih-Nya. Kitab Suci mengatakan: “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Itulah Dia.
Allah telah mencurahkan kasih-Nya kepada kita supaya kita dapat menunjukkan kasih yang sama kepada sesama. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35)
Jemaat di gereja kecil kami mengasihi karena kasih Allah ada dalam mereka. Kasih itu terpancar dan menandai mereka sebagai pengikut-pengikut Yesus. Kita tidak sepenuhnya bisa memahami kasih Allah, tetapi kita dapat mencurahkan kasih itu kepada sesama, sehingga kita menjadi contoh kasih-Nya yang tidak terselami.